KESAKSIAN SOEBANDRIO PDF

Pemikiranku dan Kesaksian Soebandrio Atas G30SIn “INFO”. Thesis by Dr. Stephen Carr Leon entitled “Why the Jews so smart”In “INFO”. Subandrio live at Revolution 16th june 1h35m Kisah Buruk Soeharto Di Mata Soebandrio. 9m Kesaksian Subandrio, Seputar Peristiwa ing the identity of the mastermind (Latief , Subandrio ,. Sembiring ). tember Kesaksian Letkol (Pnb) Heru Atmodjo, Jakarta: Hasta. Mitra.

Author: Mubar Mogami
Country: Tanzania
Language: English (Spanish)
Genre: Medical
Published (Last): 15 October 2005
Pages: 271
PDF File Size: 9.2 Mb
ePub File Size: 20.38 Mb
ISBN: 344-7-61523-233-4
Downloads: 93986
Price: Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader: Dat

Untuk sempurnanya sesuatu masalah biasanya diiringi oleh suatu pengantar. Pengantar sebagai pembuka pintu gerbang kejelasan untuk mencegah supaya tidak tersungkur dalam mencari dan meraba dalam kegelapan, supaya tidak ” struikelen in het zuken en tastenin het duister “. Pengantar ini hendak saya gunakan untuk menerangkan arti judul uraian. Saya lama mengendapkan diri dalam mencari judul uraian yang tepat, sesudah meringkuk ditahan dalam sel berukuran 2 M 20 cm kali 3 M 60 cm selama lebih dari 7 bulan atau kongkritnya hari terhitung mulai 6 Desember ; sesudah 14 kali diperiksa langsung selama 18 hari yang berlangsung tidak kurang dari 70 jam pemeriksaan dan menghasilkan Berita Acara Pemeriksaan setebal halaman; sesudah mengalami keseluruhan pemeriksaan pendahuluan sebanyak 40 kali; sesudah mendapat bantuan kiriman sekedar makanan dan pakaian dari TEPERPU [Team Pemeriksa Pusat] sebanyak l6 kali; dan sesudah mendapat sekedar pemeriksaan dokter sebanyak 9 kali.

Dalam pengendapan diri itu saya menemukan judul yang tepat, yaitu: Saya sengaja tidak menamakan uraian saya ini suatu pembelaan, karena suatu pembelaan harus memiliki persenjataan yang lengkap baik di bidang teori Marxisme-Leninisme maupun di bidang-bidang lainnya.

Persenjataan itulah yang justru tidak saya miliki karena persediaan perpustakaan tidak saya miliki, tidak ada di tangan saya, sehingga segala sesuatu yang saya uraikan ini semata-mata hanya didasarkan kepada ingatan-ingatan yang masih tersimpan dalam otak selaku ” supreme headquarters ” yang terdiri dari 3 kompartemen, ialah: Fantasi, imajinasi, emosi; 2.

kesaksian soebandrio pdf writer

Intelek yang menggali pikiran-pikiran dan ide; 3. Memori dan kontrol gerak tubuh. Karena keterbatasan pengetahuan teori Marxisme-Leninisme yang ada pada saya, maka saya menyisihkan judul “Pidato Pembelaan” saya berpendirian bahwa pengetahuan seseorang itu terbatas.

Seseorang bisa mengetahui banyak, tapi tidak bisa tahu semua. Jika seseorang itu berani menyatakan “Saya tahu semua”, maka akibatnya tidak lain kecuali tidak mau mendengarkan pendapat orang lain.

Judul agung demikian tak mungkin saya pakai dalam keadaan serba terisolasi, hidup sebatang kara di dalam sel tanpa diskusi dengan seorang kawanpun. Daripada berlayar sendirian dalam keagungan judul uraian, saya berpendapat lebih baik mendamparkan diri pada judul sederhana, “Uraian Tanggung Jawab”.

Dengan sendirinya tanggung jawab kepada rakyat. Siapakah yang dimaksud dengan rakyat itu? Kaum buruh, kaum tani dan borjuis kecil di luar kaum tani termasuk kaum intelektual revolusioner adalah rakyat pekerja dan merupakan tenaga penggerak revolusi dalam tahap revolusi yang nasional dan demokratis, dalam tahap revolusi yang anti imperialis dan anti feodal. Sedangkan borjuis nasional adalah sekutu tambahan, sebab sesuai dengan watak bimbangnya, maka borjuis nasional dalam batas-batas tertentu dan untuk periode tertentu saja bisa konsekwen anti imperialis dan anti tuan tanah.

Inilah pengertian saya tentang rakyat. Berdasarkan pengertian itu maka saya sama sekali tidak merasa terikat untuk bertanggung-jawab kepada musuh-musuh rakyat.

Siapakah yang dimaksud dengan musuh-musuh rakyat itu? Musuh-musuh rakyat ialah kaum imperialis, tuan tanah, borjuis komprador dan kaum kapitalis birokrat yang dikenal oleh rakyat sebagai kaum kabir [kapitalis birokrat] atau kaum pencoleng kekayaan negara menurut istilah Bung Karno. Tanggung jawab saya kepada rakyat adalah sekaligus merupakan tanggung jawab kepada Partai Komunis Indonesia.

Sungguh sayang bahwa sidang-sidang Mahmilub yang mengadili perkara saya ini tidak disiarkan oleh RRI seperti halnya dengan sidang-sidang Mahmillub yang lalu sejak mengadili perkara Sdr.

Yah, walaupun tidak disiarkan oleh RRI, saya yakin bahwa secara “getok-tular”, secara berantai akan sampai pada mereka, sebab ” mondblad “, suara dari mulut ke mulut, adalah lebih cepat tersiar daripada ” staatsblad “, suara Pemerintah. SH, Ketua Team Asisten Pembelaan Mahmillub, pernah menyatakan bahwa dihadapkannya saya di depan Sidang Mahmillub ini adalah penting, sebab mempunyai arti nasional dan internasional.

Sdr Mayor Udara Trenggono SH pernah menjelaskan bahwa sidang Mahmillub adalah suatu ” fair trial “, suatu pengadilan yang jujur fair.

Oasis_don’t look back in anger | This is aku-writing blog

Ini semestinya berarti pengadilan yang terbuka. Subari SH pernah menerangkan sorbandrio Sdr ex Brigjen. Suparjo, bahwa maksud Sdr. Jenderal Suharto mengadakan Mahmilub yang terbuka untuk umum, adalah agar rakyat dapat menilai tentang beleid Pemerintah dalam mengadili perkara-perkara yang berhubungan dengan GS [Gerakan 30 September]. Dikatakannya pula, bahwa bagaimana nanti penilaian rakyat atas dirinya akan diserahkan kepada rakyat.

  DA 2166-8 PDF

Sesuatu yang logis tapi politis dipandang bisa merugikan Pemerintah, pihak Pemerintah yang kuasa bisa saja berwenang untuk mengesampingkan logika tersebut. Singkatnya, sesuatu yang logis bisa dionlogiskan, sedangkan yang onlogis bisa dilogiskan. Sebagaimana sidang Mahmillub sekarang ini kesakisan terbuka tapi tertutup, dan bersifat umum sesuai dengan pengumuman di koran-koran yang dihasilkan oleh briefing para petugas militer kepada para wartawan soebandrik tidak diumumkan.

Inilah yang dinamakan serba umum tapi tidak umum, yang menurut bahasa rakyat sederhana adalah sama dengan “didikte”, artinya tidak demokratis. Jika wartawan yang bersangkutan berani menyimpang dari ketentuan briefing bisa diistirahatkan, di dalam ” hotel pro deo “.

Ya jika diketuk rasa keadilan saya, maka rasa keadilan saya tidak mengangguk membenarkan tapi dengan lantang menyatakan bahwa semua hal itu adalah tidak adil bagi kepentingan rakyat banyak. Ini kalau didasarkan kepada rasa keadilan saya.

Tapi saya tahu, ini adalah politik yang tidak usah direntang-panjangkan. Oleh karena itu saya berusaha keras supaya seluruh uraian saya ini dapat dijelujuri oleh benang merah tangkisan saya pada saat sidang hari pertama, ketika saya diberi kesempatan mengemukakan exceptie, yaitu antara lain sbb: Saya mengucapkan terimakasih kepada Sdr Oditur yang terhormat yang telah banyak mensilat soal-soal teori Marxis-Leninis sehingga menyegarkan ingatan saya kembali setelah absen selama 7 bulan dalam mempelajari Marxisme-Leninisme.

Juga terimakasih pada Sdr Oditur yang terhormat yang telah mengemukakan dalam dakwaannya bahwa perbuatan saya adalah suatu politiek misdrijf yang di dalam tata hukum Indonesia belum terdapat peraturannya yang khusus di dalam U. Sungguh saya sayangkan bahwa Sdr Oditur yang terhormat dalam memperkuat alasan-alasannya menggunakan, selain dari Mr. Utrecht, kutipan-kutipan tafsiran antara lain dari Simons, Stammler, Mr.

Noyon, Langemeyer yang umumnya sarjana-sarjana dari negeri Belanda yang pernah menjajah Indonesia. Saya akan lebih bisa tegak berdiri dalam mendengarkan pembacaan dakwaan seandainya alasan-alasan tersebut dilandasi oleh pendapat-pendapat Sarjana-Sarjana Hukum Indonesia sendiri, seperti Sdr Prodjodikoro SH, Sdr Susanto SH, Sdr almarhum Wirjono Djokosutono SH, dan sebagainya, sehingga terpancang kuat kepribadian Indonesia yang saya junjung tinggi dan saya bela.

Saya sebagai seorang Komunis, putera Indonesia, malu bahwa pada zaman Belanda sebelum Perang Dunia Kedua ditahan oleh pemerintah Kolonial Belanda karena persdelict dan dituduh melanggar pasal-pasal Engelbrecht soebanvrio, pada zaman Belanda sesudah Perang Dunia Kedua ditahan lagi oleh pemerintah Kolonial Belanda dituduh melanggar pasal-pasal Engelbrechtdan pada zaman R.

Inilah salah satu ciri kenapa PKI menganalisa bahwa Indonesia adalah masih setengah jajahan atau belum merdeka penuh. Selain itu cirinya ialah belum terkikis habis Imperialisme dan sisa-sisa feodalisme dari persada bumi Indonesia.

Saya terus terang tidak setuju jika ” des Konings ” harus dibaca “Presiden” sebab kita hidup tidak dalam suatu ” Koninkrijk ” Kerajaanosebandrio dalam suatu “Republik Indonesia” yang saya cintai.

Juga saya tidak setuju jika ” ministerieele verandwoordelijkheid ” dalam hal ini pemerintah Belanda diidentikkan soebamdrio “Kabinet R. Tetapi kalau ” Staten Generaal ” disamakan dengan M.

Semoga ada persamaan pengertian dengan Saudara Oditur yang terhormat mengenai hal ini. Kembali kepada masalah tanggungjawab, saya berpendapat bahwa setiap tanggungjawab tidak mungkin kokoh, kalau tidak disemen dengan tekad.

Oleh karena itu saya memilih: Sejak sepasukan ” Operasi Kalong ” bersama kawan Sujono Pradigdo Ketua Komisi Verifikasi CC-PKI datang menggerebeg tempat tinggal saya di kampung tergenang air Tomang, dan menangkap saya, maka saya membulatkan diri dalam tekad untuk “teguh dan tenang”. Tekad saya pada waktu itu bersumber pada soevandrio Komunis.

Pengertian moral bagi saya, ialah: Berdasarkan pengertian ini, maka moral Komunis adalah: Dalam PKI senantiasa diutamakan dan ditanamkan kejujuran sebab dengan jujur terhadap satu sama lain, akan mudah dicapai persatuan melalui suatu perjuangan. Persatuan itu sendiri bergerak dan berkembang sehingga terjadi ketidaksatuan soebxndrio persatuan yang perlu sofbandrio lagi untuk mencapai persatuan kembali, demikian seterusnya, sehingga menurut hukumnya sooebandrio itu relatif dan perjuangan itu mutlak untuk mencapai persatuan.

Hasil perjuangan dalam persatuan itu adalah mengkikis sesuatu yang usang dan menumbuhkan yang baru dan maju, sedangkan pertumbuhan dari yang maju, pasti mendapat perlawanan dari yang usang.

Hukum itu juga berlaku dalam PKI, kongkritnya hasil perjuangan dalam persatuan itu menelorkan keputusan yang harus ditaati dan dilaksanakan tanpa pamrih. Inilah disiplin, sebab ” dedication of life ” tidak mungkin dijalankan tanpa disiplin.

Arti disiplin yang berasal dari perkataan disipel adalah murid, penganut atau apostee. Jadi disiplin adalah keputusan yang harus dilaksanakan oleh penganut-penganutnya, sama halnya dengan disiplin di kalangan ABRI yang terumuskan dalam marga kelima dari Sapta Marga yaitu: Berdasarkan ulasan ini, terang bahwa disiplin PKI bukannya suatu ” Kadaver Discipline “, bukannya “disiplin mati”, dan seorang Komunis bukannya “manusia robot”, tapi seorang Komunis adalah manusia biasa yang berpandangan dunia materialisme-dialektik dan histori MDH.

  FEUERWEHRKNOTEN UND STICHE PDF

Bagi PKI, disiplin dimaksud untuk menyelenggarakan pekerjaan dengan tepat dan baik. Dan suatu pekerjaan baru dapat diselenggarakan dengan tepat dan baik kalau disertai dengan kesetia-kawanan atau solidaritas, dan untuk kesetia-kawanan harus berani berkorban, sebab tanpa berani berkorban menundukkan kepentingan pribadi bagi kepentingan umum tidak akan mungkin tercapai solidaritas, tidak akan mungkin tercipta persatuan dan kesatuan antara yang memimpin dan yang dipimpin, tidak akan mungkin tergalang persatuan dan kesatuan antara Bapak dan anak buah.

Itulah sekedar uraian tentang moral Komunis. Berdasarkan moral Komunis itu diterapkan pelaksanaan ” sentralisme demokrasi “, yaitu sentralisme yang didasarkan kepada demokrasi dan demokrasi yang dipusatkan, dimana soebanddio pertanggungan-jawab kolektif dengan pertanggungan-jawab perseorangan. Berdasarkan moral Komunis itu saya usahakan dengan sekuat tenaga untuk dalam derita, dalam kesulitan di tengah-tengah petir menyambar dan mati menghadang tetap melaksanakan ” tiga satu “, yaitu satu pikiran, satu hati, dan satu tujuan.

Satu pikiran ialah pikiran Marxis-Leninis, satu hati ialah hati Komunis, dan satu tujuan ialah perubahan fundamental nasib rakyat, dari hidup miskin menjadi hidup layak, dan dari ” serba salah ” menjadi soebandrioo serba benar “. Dengan landasan “tiga satu” itulah saya berusaha keras dalam menjalankan tugas, sebab saya selalu bersemboyan berdasarkan pepatah Inggris ” be mindful of your task, and do it right, for a task is noble “.

Terjemahannya kurang-lebih sebagai berikut: Dengan”tiga-satu” itulah saya melangkah dengan satu tekad seperti yang telah saya rumuskan dalam suatu pernyataan tertanggal 21 Desember yang saya sampaikan kepada para Sdr pemeriksa saya, yaitu: Lengkapnya, pernyataan itu adalah sebagai berikut: Saya tertangkap pada tanggal 6 Desember di daerah terpencil Tomang, dalam juang terkepung lawan, tepat setahun sesudah kawan Njoto tertangkap. Peristiwa ini sungguh sesuatu adegan yang mengharukan, persamaan waktu mengibaratkan persamaan nasib dan sepenanggungan.

Keharuan itu menghujam makin dalam dan makin dalam lagi, karena tertusuk kehalusan tindak para Sdr Pemeriksa yang dengan ramah masih memberikan kesempatan terakhir untuk memaparkan kata-kata akhiran saya sebagai pejuang Komunis menjelang akhir tahun Serba kebetulan, kalau tidak boleh dikatakan serba istimewa, bahwa akhir tahun mengakhiri hidup seorang Komunis.

Dari haru, tergugahlah lubuk hati saya untuk mengucapkan terima kasih atas segenap daya upaya yang telah ditempuh oleh para Sdr Pemeriksa yang dengan penuh kesabaran telah berikhtiar untuk mengubah tekad saya memilih ” jalan-mati ” menjadi ” jalan-justisi kesakssian.

Juga tidak mungkin pernyataan terima kasih saya begitu saja saya lewatkan, tanpa osebandrio, sekali lagi mengulang kembali, terima kasih saya atas adanya pengertian dari pihak para Sdr Pemeriksa mengenai pikiran dan perasaan saya yang terpancang dalam hati: Sayapun mengerti dengan baik, bahkan menghormati, bobot uraian yang diajukan para Sdr Pemeriksa yang tetap menganjurkan saya supaya mengambil “jalan-justisi”.

Kenapa justru saya yang harus memilih “jalan-justisi” padahal kawan-kawan kasih sayang se-team saya dalam memimpin PKI, DN. Mereka berempat telah mati tertembak tanpa “jalan-justisi”. Mereka berempat adalah saya, dan saya adalah mereka berempat, sehingga solidaritas Komunis mengharuskan saya untuk menunggalkan sikap saya dengan mereka berempat dan memilih soebandriio mati”. Saya dengan mereka berempat telah berpanca-kawan, artinya, berlima telah bersama-sama membangun kembali PKI sejak tahundari kecil menjadi besar, soebandroo berpolitik salah menjadi berpolitik benar, dari terisolasi menjadi berfront luas, dari kurang belajar teori menjadi mulai belajar teori Marxisme-Leninisme, dan karena tidak menguasai teori Marxisme-Leninisme secara kongkrit kemudian berakhir terpelanting dalam kegagalan GS yang membawa kerusakan berat pada PKI.

Saya pribadi terlibat dalam GS yang gagal. Kegagalan ini berarti pula kegagalan saya dalam memimpin PKI, sehingga mendorong menjadi unggulnya pihak lawan politik PKI. Keunggulan kaum kanan dalam kontradiksi kekuatan kanan, kekuatan tengah dan kekuatan kiri di dalam negeri.

Karena gagal, berarti kalah spebandrio hukumnya bagi pribadi seorang pejuang yang gagal dan kalah di genggaman tangan lawan tidak ada lain, kecuali “MATI”.

Jadi, bagi saya “jalan-justisi” akan berakhir pada mati, dan “jalan-mati” akan berakhir pula pada “tidak-hidup’. Dua jalan itu bertitik akhir sama. Itulah persamaannya, letak perbedaannya ialah dalam jarak, yang satu berjarak soeebandrio bernama “jalan-justisi”, sedangkan yang lainnya berjarak pendek bernama “jalan mati”.

Saya kesaksizn jalan pendek ini – “jalan mati” jalan berlima menunggal jadi satu, jalan yang telah dilalui oleh kawan-kawan DN Aidit, MH Lukman, Njoto dan Sakirman. Jika saya menempuh “jalan-mati’ dengan menggunakan “hak tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan”, maka ini berarti, bahwa: